Upacara Peringatan Hari Guru Nasional & HUT PGRI Ke 72

Pagi ini ada suasana berbeda dari sebelumnya, semua siswa-siswi bersiap dan berkumpul di lapangan untuk melaksanakan Upacara Peringatan Hari Guru Nasional dan HUT PGRI Ke 72, ternyata petugas upcara kali ini semua petugasnya adalah para Guru-guru yang akan menjadi petugas Upacara. Sebagaiamana yang telah di ketahui semua bahwa pada tanggal 25 November adalah Hari Guru Nasional dan HUT PGRI, ini telah tercetus sejak tahun 1994 lalu dengan tertulisnya keputusan presiden, yaitu Kepres No. 78 Tahun 1994 dan juga ditulis di UU No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen yang menetapkan tanggal 25 November merupakan hari guru nasional yang diperingati bersamaan dengan ulang tahun PGRI.

Pembina Upacara Hari Guru Nasional oleh Kepala SMK Dinamika Pembangunan 1 Jakarta, Mulyana,, SH, M.M. Dalam amanatnya menyampaikan bahwa Tugas guru cukup berat dan karena berat itulah maka guru dimuliakan, syarat menjadi guru diantaranya harus pandai, tapi tidak semua orang pandai mampu menjdai guru, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 yang telah di ubah menjadi Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017 tentang Guru. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Standar Kompetensi Guru, bahwa Syarat akademik menjadi guru minimum lulus D-IV atau strata satu (S1) dan seorang guru harus memiliki 4 standar kompetensi guru yaitu :

  1. Kompetensi Pedagodik
  2. Kompetensi Keperibadian
  3. Kompetensi Sosial
  4. Kompetensi Profesional

Tidak hanya sampai di situ kepala sekolah juga berpesan kepada para siswa-siswi Betapa berat, tapi mulia tugas bapak dan ibu guru kalian, oleh sebab itu dalam ajaran agama kita diminta menghormati kepada 3 orang yaitu :

  • Orang tua kita yang melahirkan (bapak ibu)
  • Guru-guru kita yang telah mengajari kita dari bodoh, tidak bisa baca tulis, tidak bisa menghitung menjadikan kita berpengetahuan, berketampilan dan berkarakter
  • Mertua kita (ketika kita telah berumah tangga) yaitu orang tua dari istri/suami kita

Dan oleh sebab itu, kalau tidak ingin menjadi orang durhaka dan hidup kita ingin berkah, jangan berani melawan atau menyakiti tiga orang tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.